Header Ads

Hukum Mengucapkan Salam Dalam Shalat Fardlu


Mengucapkan salam sebagai 'penghalal' dari sholat adalah salah satu rukun diantara rukun sholat. Adapun kalimah salam yang sempurna adalah 'assalamu 'alaikum warohmatulloh'. TIDAK DISUNAHKAN menambahnya dengan kata 'wabarokatuh' ini adalah keterangan yang paling masyhur.

و اعلم ان الاكمال فى السلام ان يقول عن يمينه " السلام عليكم و رحمة الله "
و عن يساره " السلام عليكم و رحمة الله " و لا يستحب ان يقول معه " و بركاته" ،لانه خلاف المشهور عن رسول الله صلى الله عليه و سلم
الاذكار ٦٥

Dalam referensi yang lain jugasama hukumny TIDAK DISUNAHKAN.

و اكمله السلام عليكم و رحمة الله ولا يندب هنا و بركاته على المعتمد وكذا فى الصلاة الجنازة على المعتمد ايضا
البيجورى ١/٢٣٦

"Sempurnanya salam adalah assalamu alaikum warohmatulloh, tidak di sunahkan menambahkan wabarokatuh menurut qoul mu'tamad, begitu juga tatkala sholat jenazah"

Terjadi khilaf dikalangan Syafi'iyyah sendiri tentang penambahan wabarakatuh pada salam saat shalat, namun yang mu'tamad tidak disunahkannya...

( قَوْلُهُ وَأَكْمَلُهُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ) وَلَا تُسَنُّ زِيَادَةُ وَبَرَكَاتُهُ عَلَى الْمَنْقُولِ الْمَنْصُوصِ وَهُوَ الْمُعْتَدُّ وَإِنْ وَرَدَتْ مِنْ عِدَّةِ طُرُقٍ وَمِنْ ثَمَّ اخْتَارَ كَثِيرٌ نَدْبَهَا ا هـ مِنْ شَرْحِ م ر وع ش عَلَيْهِ .

(Paling sempurnanya salam saat shalat adalah “Assalamualaikum wa Rahmatullah”) dan tidak disunahkan menambahkan Wa Barakaatuh berdasarkan keterangan yang tertetapkan dan dinukil dari Nabi dan inilah pendapat yang kuat serta dapat dijadikan pegangan meskipun terdapat beberapa jalur yang mensunahkannya yang membuat sebagian ulama memilih mensunahkannya. [ Hasyiyah al-jamal III/448 ].

( ورحمة الله ) مقتضاه أنه لا يقول وبركاته وهو المشهور , والثاني يستحب والثالث في الأول دون الثاني , حكاها السبكي واختار الثاني .

(Wa Rahmatullah) pengertiannya sesungguhnya jangan mengucapkan Wa baraktuh dan inilah pendapat yang mashur, pendapat kedua mensunahkannya, pendapat ketiga sunah pada saat salam pertama tidak pada salam kedua, pendapat-pendapat tersebut dihikayahkan oleh as-Subky dan beliau memilih pendapat yang kedua. [ Hasyiyah Umairah I/192 ].

ولا يندب زيادة ( وبركاته ) على المعتمد عند الشافعية والحنابلة، ودليلهم يتفق مع دليل الحنفية: وهو حديث ابن مسعود وغيره المتقدم: «أن النبي صلّى الله عليه وسلم كان يسلم عن يمينه وعن يساره: السلام عليكم ورحمة ا لله ، السلام عليكم ورحمة الله، حتى يُرى بياض خده» .
فإن نكس السلام فقال: ( عليكم السلام ) لم يجزه عند الشافعية والحنابلة. والأصح عندهم ألا يجزيه: ( سلام عليكم ).

Dan tidak disunahkan menambahkan Wa barakaatuh menurut pendapat yang kuat pada kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah dengan dalil yang telah tersebut dikalangan Hanafiyyah yang menrupakan hadits riwayat Ibn Masud dan lainnya “Bahwa nabi Muhammad SAW saat shalat melakukan salam kearah kanan dan kiri seraya berucap “Assalamualaikum warahmatullah, “Assalamualaikum warahmatullah, hingga beliau melihat warna putih pada pipinya”. Bila lafadz salamnya dibalik ‘Alaikum salam’ maka tidak boleh menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah dan pada pendapat yang paling shahih dikalangan mereka menyatakan ketidak cukupan salam yang dibalik tersebut. [ Al-Fiqh al-Islaam II/50 ].

والسنة أن يقول : " السلام عليكم ورحمة الله " مرتين ، وقد صرح الحنفية بكراهة كل صيغة تخالف هذه الصيغة ، وزاد بعضهم لفظ " وبركاته " وقال الشافعية : لا تسن زيادة " وبركاته " .
وقال الحنفية : الأولى تركه ، لحديث

Yang disunahkan bila mengucapkan Assalamualaikum warahnatullah dua kali, kalangan Hanafiyyah memakruhkan lafadz yang menyelisihi shigat ini, sebagian ulama menambahkan wabarakatuh, Kalangan Syafi’iyyah menyatakan tidak sunnahnya sedang kalangan Hanafiyyah menyatakan yang lebih utama meninggalkannya dengan dasar hadits Nabi. [ Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 27/101 ].

Walloohu A'lamu bishowab.

No comments