Header Ads

Hukum Wudhu dan Kencing di Kamar Mandi


MENJAUHI KENCING DI KAMAR MANDI KARENA KHAWATIR TERJADI WAS-WAS

ب - اجْتِنَابُ الْبَوْل فِي مَكَانِ الاِسْتِحْمَامِ خَشْيَةَ الْوَسْوَاسِ :
14 - نَصَّ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ عَلَى كَرَاهَةِ الْبَوْل فِي مَكَانِ الاِسْتِحْمَامِ لِحَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغ...َفَّلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال : قَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي مُسْتَحَمِّهِ ثُمَّ يَغْتَسِل فِيهِ " وَفِي رِوَايَةٍ : " ثُمَّ يَتَوَضَّأُ فِيهِ ، فَإِنَّ عَامَّةَ الْوَسْوَاسِ مِنْهُ (1) . وَإِنَّمَا نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ مَسْلَكٌ يَذْهَبُ فِيهِ الْبَوْل ، أَوْ كَانَ الْمَكَانُ صُلْبًا فَيُوهَمُ الْمُغْتَسِل أَنَّهُ أَصَابَهُ مِنْهُ شَيْءٌ فَيَحْصُل بِهِ الْوَسْوَاسُ (2)
____
(1) حَدِيث : " لاَ يَبُولُنَّ أَحَدُكُمْ فِي مُسْتَحَمِّهِ . . . " أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد ( 1 / 29 - ط حِمْصَ ) ، وَأَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيّ ( 1 / 33 - ط الْحَلَبِيّ ) مختصرا بِمَعْنَاهُ وَقَال : هَذَا حَدِيث غَرِيب .
(2) حَاشِيَة ابْن عَابِدِينَ 1 / 230 ، وَمُغْنِي الْمُحْتَاج 1 / 42 ، وَكَشَّاف الْقِنَاع 1 / 62 ، 63 ، وَمَعَالِم السُّنَنِ 1 / 22 بَيْرُوت الْمَكْتَبَة الْعِلْمِيَّة .

Kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah menghukumi makruh kencing dikamar mandi berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Janganlah salah seorang diantara kamu kencing di tempat mandinya kemudian mandi atau dalam riwayat lain kemudian wudhu di tempat tersebut karena sesungguhnya umumnya ganguan (was-was) itu dari situ” [Hadits riwayat Abu Daud I/29, Tirmidzi I/33]

Pelarangan tersebut dengan ketentuan bila dia tidak menemukan jalan lain/tempat lain baginya untuk kencing, atau kamar mandinya berupa dataran keras yang dapat memberikan praduga bagi orang yang mandi akan terkena sesuatu dari percikan kencingnya sehingga menimbulkan rasa was-was baginya. (Hasyiyah ‘Aabidiin I/230, Mughni al-Muhtaaj I/42, Kissyaaf alQinaa’ I/62-63, dan Ma’aalim as-sunan I/22). Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 43/152-153. Wallaahu A'lamu Bis showab.

No comments